Bu Us, Guru Swasta Yang Ciptakan Lapangan Kerja Kala Pandemi Corona
- langgengmedia20
- May 6, 2020
- 3 min read
Sejumlah APD di beberapa daerah masih langka, jumlah pasien positif Corona semakin naik setiap harinya. Stok masker operasi di apotik pun terbatas. Sehingga warga kesulitan mendapatkannya. Tak kehabisan akal, Uswatun wanita yang berprofesi sebagai guru swasta ini menggaet para tetangganya untuk menjahit masker kain yang bisa di distribusikan untuk warga.

Sidoarjo – Bunyi mesin jahit yang terus beroperasi sejak pagi mengisi kesunyian rumah sederhana di jalan Sentana III RT 2 RW 5, tebel tengah, gedangan. Ruang tamu yang tidak terlalu luas itu di penuhi potongan kain dan benang, sementara satu mesin jahit tertata rapi di sudut ruangan dekat pintu kamar tepat di bawah foto yang berpigora berukuran besar. Cukup mencolok diantara dinding yang polos tanpa hiasan tersebut.
Uswatun Hasanah, sang pemilik rumah dan satu-satunya yang mengoperasikan mesin jahit tersebut selesai memotong benang yang menjutai lantas menunjukkan masker kain yang selesai di jahitnya.
“Habis ini di rapihkan dulu guntingannya terus baru di packing” ucap Bu Us, sapaan akrab dari Uswatun Khasanah.
Wanita berusia 42 tahun ini berprofesi sebagai guru matematika di SMP Swasta yaitu Yayasan Itaba Tebel, Gedangan. Wanita kelahiran Kediri ini sudah mempunyai keahlian menjahit sejak duduk di bangku sekolah menengah. Kegiatan sehari-harinya adalah mengajar dan menjadi ibu rumah tangga bagi keluarganya selepas dari pekerjaannya sebagai seorang guru.
Sudah lebih dari tiga minggu sejak pengumuman sekolah di liburkan dari pemerintah karena adanya virus Corona yang semakin meluas. Dan pemberitahuan di berlakukannya PSBB sejak 28 April lalu. Terpaksa Bu Us harus berhenti mengajar untuk sementara. Dan harus rela menelan pil pahit bahwa penghasilannya pun ikut menurun seiring dengan diliburkannya aktivitas mengajar di sekolah.
Namun, wanita yang hobi menjahit ini tidak kehabisan akal. Melihat kondisi saat ini, Bu Us memanfaatkan hobinya untuk mengisi waktu luangnya dan menghasilkan pendapatan tambahan. Apalagi mengingat stok masker di Apotik kian langka sementara permintaan masker yang semakin meningkat.
Menggaet para tetangganya, Bu Us menciptakan lapangan kerja kecil di kampungnya. Segala bahan baku pembuatan masker yang sudah di sediakan oleh Bu Us, kemudian di serahkan kepada beberapa tetangganya yang mempunyai mesin jahit untuk di produksi. Ada juga yang datang untuk sekedar membantu packaging masker.
“Disini yang punya mesin jahit cuma tiga orang, jadi saya kasih ke mereka buat dijahit. Semua bahan saya yang siapkan. Nanti mereka tinggal setor ke saya hasil jahitannya” jelas Bu Us ketika di temui pada Rabu (06/04/2020).
“Ada juga tetangga yang datang bantu masukin masker ke plastik, ya bantu-bantu packing gitu” tambahnya.

Sehari Bu Us bisa memproduksi 70-100 pieces masker. Hasil jahitan masker yang di terkumpul di rumah Bu Us sebagian di sumbangkan ke masjid atau mushollah daerah tempat tinggalnya kurang lebih 30-50 masker. Sisanya lagi di jual di warga sekitar serta di bantu oleh kedua anaknya untuk di pasarkan secara online.
Masker di jual dengan harga yang sangat terjangkau, yaitu 6 ribu per pieces. Bu Us bisa meraup Keuntungan dari penjualan masker yang cukup lumayan. Hasil keuntungannya pun sebagian dijadikan upah bagi tetangganya yang datang membantu menjahit maupun sekedar packing masker, yang rata-rata adalah warga dengan ekonomi yang rendah.
“Alhamdulillah sangat tercukupi, karena kebetulan untuk pesanan masker ini cukup meningkat bahkan diluar dugaan saya”
Guru matematika tersebut berharap APD tidak menjadi barang langka. Dengan adanya produksi masker kain saat ini, ia berharap bisa membantu memenuhi kebutuhan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Apalagi masker kain yang di produksinya bisa di cuci dan dipakai kembali, meski manfaatnya tidak seperti masker sekali pakai. Tapi setidaknya masker kain ini bisa membantu masyarakat menghambat penyebaran virus.
“Yang kena siapa kan kita nggak pernah tahu, setidaknya dengan pakai masker kain itu memberikan barier agar droplet dari dalam tubuh tidak tersebar dan kena orang lain” pesan Bu Us.
Comments